Bengkel Mobil Profesional MontirPro Auto Care

Servis, Perawatan dan Perbaikan Mobil Modern Dengan Teknologi Terkini.

Layanan Bengkel

Diagnosa Scanner

Pemeriksaan kendaraan menggunakan alat modern.

Servis Berkala

Perawatan sesuai standar pabrikan.

Tune Up

Menjaga performa mesin tetap optimal.

AC Mobil

Perawatan dan perbaikan AC kendaraan.

Overhaul Mesin

Perbaikan menyeluruh mesin kendaraan.

Fleet Service

Memastikan armada anda selalu dalam kondisi Prima

Artikel Terbaru Montirpro

Video Terbaru MontirPro Indonesia

Subscribe Channel

Testimoni Pelanggan

⭐⭐⭐⭐⭐

Pelayanan cepat dan profesional.

⭐⭐⭐⭐⭐

Harga transparan dan memuaskan.

⭐⭐⭐⭐⭐

Mekanik berpengalaman dan ramah.

Mobil Bermasalah?

Konsultasikan Sekarang Dengan Tim MontirPro.

Booking Via WhatsApp
💬

Tyre Pressure Monitor System (TPMS): Cara Kerja, Jenis, Fungsi, dan Biaya Perbaikan yang Wajib Diketahui Pemilik Mobil

Kenali fungsi TPMS, cara kerja, jenis, gejala kerusakan, hingga prosedur reset sensor tekanan ban mobil secara lengkap.

Baca Juga

 Apa Itu Tyre Pressure Monitor System (TPMS)?

Sistem pemantauan tekanan ban TPMS


Memeriksa tekanan angin ban sering dianggap pekerjaan sepele. Padahal, tekanan ban yang tidak sesuai bisa memengaruhi kenyamanan, konsumsi bahan bakar, umur ban, hingga keselamatan berkendara.

Karena alasan itulah banyak pabrikan mobil modern membekali kendaraannya dengan Tyre Pressure Monitor System (TPMS). Sistem ini bertugas memantau tekanan angin ban dan memberikan peringatan kepada pengemudi ketika tekanan ban turun di bawah batas aman.

Melalui indikator di panel instrumen, pengemudi dapat mengetahui lebih cepat jika terjadi kekurangan tekanan angin pada salah satu atau beberapa ban, sehingga risiko kerusakan ban maupun kecelakaan dapat diminimalkan.


Mengapa Tekanan Angin Ban Sangat Penting?

Setiap mobil memiliki standar tekanan ban yang berbeda sesuai rekomendasi pabrikan. Informasi ini biasanya dapat ditemukan pada buku manual kendaraan atau stiker yang ditempel di pilar pintu pengemudi.

Tekanan ban yang tepat memberikan beberapa keuntungan, seperti:

  • Kendaraan lebih stabil saat dikemudikan.

  • Konsumsi bahan bakar lebih efisien.

  • Umur ban lebih panjang.

  • Kemampuan membawa beban tetap optimal.

  • Risiko pecah ban berkurang.

Perlu diingat, angka Maximum Cold Inflation Pressure yang tercetak pada dinding samping ban bukanlah tekanan yang direkomendasikan untuk penggunaan harian. Angka tersebut menunjukkan batas tekanan maksimum yang masih aman untuk ban tersebut.

Pada mobil penumpang, tekanan ban umumnya berada di kisaran 32–34 psi saat kondisi dingin, meskipun nilai pastinya tetap harus mengikuti rekomendasi pabrikan kendaraan.


Dampak Tekanan Ban Terlalu Tinggi

Sebagian pengemudi sengaja mengisi ban lebih keras dengan tujuan menghemat bahan bakar. Memang benar, tekanan yang lebih tinggi dapat mengurangi rolling resistance sehingga kendaraan terasa lebih ringan.

Namun ada konsekuensi yang harus diterima.

Ban menjadi lebih keras sehingga kenyamanan berkendara menurun. Selain itu, tekanan yang terlalu tinggi akan meningkatkan beban kerja struktur ban. Jika melebihi batas maksimum yang ditentukan pabrikan ban, risiko pecah ban akan meningkat.

Bahaya Ban Kelebihan Tekanan

Tekanan berlebih dapat menyebabkan:

  • Tapak ban aus tidak merata.

  • Traksi berkurang.

  • Kendaraan terasa memantul saat melewati jalan bergelombang.

  • Risiko kerusakan ban lebih besar saat menghantam lubang atau benturan keras.


Dampak Tekanan Ban Terlalu Rendah

Tekanan ban yang kurang sering kali lebih berbahaya dibanding tekanan yang terlalu tinggi.

Ban memang terasa lebih empuk dan daya cengkeram ke permukaan jalan meningkat. Namun di balik itu terdapat sejumlah risiko serius.

Ketika tekanan ban rendah, area tapak yang bersentuhan dengan jalan menjadi lebih luas. Akibatnya gesekan meningkat dan suhu kerja ban naik secara signifikan.

Mengapa Ban Cepat Aus Saat Kurang Angin?

Saat tekanan rendah, struktur ban menjadi lebih fleksibel dan mengalami deformasi berlebihan setiap kali roda berputar. Kondisi ini mempercepat keausan tapak ban hingga mencapai batas Tread Wear Indicator (TWI).

Selain itu:

  • Tarikan kendaraan terasa lebih berat.

  • Konsumsi bahan bakar meningkat.

  • Kapasitas angkut berkurang.

  • Temperatur ban naik drastis.

Pada kondisi tertentu, seperti membawa muatan berat, melaju kencang di jalan tol, dan cuaca panas, tekanan ban yang terlalu rendah dapat menyebabkan ban meledak (blowout).

Jika hal ini terjadi pada SUV, MPV tinggi, atau truk, kendaraan bisa kehilangan kendali bahkan terguling.


Mengapa Tekanan Ban Harus Dicek Secara Berkala?

Banyak pemilik mobil mengira tekanan ban akan tetap sama selama tidak ada kebocoran. Faktanya tidak demikian.

Udara di dalam ban dapat keluar secara perlahan melalui pori-pori karet ban, area bead, bahkan melalui velg.

Karena itu tekanan ban sebaiknya diperiksa minimal setiap:

  • 2 minggu sekali, atau

  • 1 bulan sekali.

Pemeriksaan harus dilakukan saat kondisi ban dingin karena suhu ban yang meningkat akibat perjalanan dapat membuat tekanan terbaca lebih tinggi dari kondisi sebenarnya.


Fungsi Lampu Indikator TPMS

Saat kunci kontak diputar ke posisi ON, lampu TPMS biasanya menyala sesaat sebagai pemeriksaan sistem.

Jika setelah itu lampu mati, berarti sistem bekerja normal.

Namun jika lampu tetap menyala atau muncul saat kendaraan berjalan, kemungkinan besar tekanan salah satu ban berada di bawah batas aman.

Sebagian besar sistem TPMS akan memberikan peringatan ketika tekanan ban turun sekitar 25% dari tekanan standar.

Apa Arti Lampu TPMS Berkedip?

Lampu TPMS yang berkedip biasanya menunjukkan adanya gangguan pada sistem, bukan sekadar tekanan ban rendah.

Penyebab yang umum antara lain:

  • Sensor TPMS rusak.

  • Modul TPMS bermasalah.

  • Kerusakan BCM (Body Control Module).

  • Gangguan pada modul penerima sinyal.

  • Kerusakan kabel atau konektor.


Jenis-Jenis TPMS Pada Mobil

Secara umum terdapat dua jenis sistem TPMS yang digunakan pada kendaraan modern.

TPMS Direct Type

TPMS direct merupakan sistem yang mengukur tekanan ban secara langsung menggunakan sensor tekanan yang dipasang pada masing-masing roda.

Sensor ini mengirimkan sinyal radio ke modul TPMS yang kemudian mengolah informasi tekanan ban secara real-time.

Keunggulan sistem direct:

  • Pembacaan tekanan lebih akurat.

  • Dapat mengetahui ban mana yang mengalami penurunan tekanan.

  • Respon lebih cepat.

Sensor biasanya ditempatkan:

  • Di dasar velg bagian dalam.

  • Menjadi satu kesatuan dengan pentil ban.


TPMS Indirect Type

Berbeda dengan sistem direct, TPMS indirect tidak memiliki sensor tekanan di dalam ban.

Sistem ini memanfaatkan wheel speed sensor ABS untuk membaca perbedaan putaran roda.

Saat tekanan angin berkurang, diameter efektif ban akan mengecil sehingga roda berputar sedikit lebih cepat dibanding roda lainnya. Perbedaan inilah yang digunakan sistem untuk mendeteksi kemungkinan ban kurang angin.

Kelebihan TPMS Indirect

  • Biaya produksi lebih murah.

  • Tidak membutuhkan sensor tambahan pada roda.

  • Perawatan lebih sederhana.

Kekurangan TPMS Indirect

Sistem ini memiliki keterbatasan, yaitu:

  • Sulit mendeteksi jika kedua ban pada satu axle sama-sama kurang angin.

  • Tidak mampu mendeteksi jika keempat ban mengalami penurunan tekanan yang sama.

  • Tingkat sensitivitas lebih rendah dibanding TPMS direct.


Umur Baterai Sensor TPMS

Pada sistem direct TPMS, setiap sensor menggunakan baterai lithium internal 3 volt.

Umumnya baterai ini mampu bertahan antara 7 hingga 10 tahun, tergantung:

  • Frekuensi pengiriman sinyal.

  • Intensitas penggunaan kendaraan.

  • Suhu lingkungan.

Karena baterai menyatu dengan sensor, penggantian biasanya dilakukan satu paket bersama sensor TPMS.

Banyak teknisi menyarankan mengganti seluruh sensor ketika salah satu sensor sudah mulai habis dan usia sensor telah melewati lima tahun agar tidak terjadi kerusakan beruntun.


Mengapa TPMS Harus Direlearn Setelah Rotasi Ban?

Pada banyak kendaraan, posisi setiap sensor TPMS harus dikenali oleh modul kontrol.

Ketika dilakukan rotasi ban, posisi sensor otomatis berubah sehingga sistem perlu melakukan proses:

  • Reset TPMS

  • Relearn TPMS

  • Reprogramming TPMS

Prosedur ini berbeda pada setiap merek kendaraan.

Beberapa mobil hanya memerlukan tombol reset, sedangkan sebagian lainnya membutuhkan bantuan scan tool khusus.

Toyota misalnya biasanya menyediakan tombol reset TPMS di area glove box atau dashboard tertentu.


Jangan Gunakan Tire Sealer Pada Ban yang Menggunakan TPMS

Banyak produk tire sealer mengandung cairan yang dapat melapisi bagian dalam ban.

Masalahnya, cairan tersebut dapat menutupi sensor tekanan sehingga pembacaan menjadi tidak akurat atau bahkan merusak sensor TPMS.

Karena itu penggunaan tire sealer pada kendaraan yang menggunakan direct TPMS sangat tidak dianjurkan.


Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Servis TPMS

Saat melakukan perbaikan ban, spooring, balancing, penggantian velg, atau rotasi ban, ada beberapa hal yang wajib diperhatikan.

Pada sistem direct TPMS:

  • Hindari benturan pada sensor saat bongkar pasang ban.

  • Beri tanda posisi ban sebelum dilepas.

  • Pastikan sensor tidak tertimpa alat tyre changer.

  • Lakukan relearn atau reprogramming jika diperlukan.

Sedangkan pada sistem indirect TPMS:

  • Pastikan tekanan ban sudah sesuai sebelum reset.

  • Lakukan kalibrasi ulang setelah rotasi atau penggantian ban.

  • Periksa sistem ABS jika muncul gangguan TPMS.


Estimasi Biaya Perbaikan TPMS

Biaya perbaikan sistem TPMS sangat bervariasi tergantung jenis kendaraan dan kerusakannya.

Reset dan Kalibrasi TPMS

Umumnya berkisar antara Rp100.000 hingga Rp300.000.

Diagnosa Menggunakan Scanner

Biasanya berada pada kisaran Rp150.000 hingga Rp500.000.

Penggantian Sensor TPMS Aftermarket

Berkisar Rp300.000 hingga Rp1.000.000 per sensor.

Penggantian Sensor TPMS Original

Bisa mencapai Rp1.000.000 hingga Rp3.000.000 per sensor tergantung merek kendaraan.

Penggantian Modul TPMS

Biayanya dapat mencapai jutaan rupiah tergantung tipe mobil.


FAQ Seputar TPMS

Apakah TPMS bisa menggantikan pemeriksaan tekanan ban manual?

Tidak. TPMS hanya berfungsi sebagai sistem peringatan. Pemeriksaan tekanan ban secara berkala tetap perlu dilakukan menggunakan tire pressure gauge yang akurat.

Berapa batas tekanan ban yang membuat lampu TPMS menyala?

Umumnya lampu akan menyala ketika tekanan ban turun sekitar 25% dari nilai standar yang direkomendasikan pabrikan.

Apakah TPMS bisa rusak?

Bisa. Kerusakan dapat terjadi pada sensor, modul kontrol, receiver, BCM, kabel, atau baterai sensor yang sudah habis.

Apakah sensor TPMS dapat diperbaiki?

Pada umumnya tidak. Jika sensor mengalami kerusakan atau baterainya habis, sensor harus diganti.

Apakah mengganti velg aftermarket dapat memengaruhi TPMS?

Ya. Perubahan ukuran velg atau ban yang tidak sesuai spesifikasi dapat memengaruhi kalibrasi dan akurasi sistem TPMS maupun ABS.


Kesimpulan

Tyre Pressure Monitor System (TPMS) bukan sekadar fitur tambahan, tetapi bagian penting dari sistem keselamatan kendaraan modern. Sistem ini membantu pengemudi mengetahui kondisi tekanan ban lebih cepat sehingga risiko pecah ban, keausan berlebihan, dan kecelakaan dapat diminimalkan.

Jika lampu TPMS mobil Anda menyala, berkedip, atau tetap aktif setelah penggantian ban dan rotasi roda, jangan menunda pemeriksaan. Diagnosa yang tepat dapat menghindarkan Anda dari biaya penggantian komponen yang tidak diperlukan.

Untuk pemeriksaan tekanan ban, reset TPMS, kalibrasi sensor, penggantian sensor TPMS, spooring, balancing, maupun perawatan berkala kendaraan, percayakan kepada Montirpro Auto Care yang didukung teknisi berpengalaman dan peralatan diagnostik modern sehingga masalah dapat ditemukan secara akurat dan diperbaiki dengan tepat.


Montirpro Auto Care
Perawatan Mobil Berkualitas untuk Performa Maksimal.
Didukung teknisi berpengalaman dengan layanan profesional dan terpercaya.
🌐 Montirpro.com
📞 0811-1857-333



Gabung dalam percakapan