...

Mengapa Busi Harus Diganti..?

February 20, 2018
Busi yang kotor atau busi yang rusak dapat menjadi salah satu penyebab mesin susah hidup . Saat mesin distarting dan bahan bakar yang disemprotkan ke ruang bakar dalam keadaan  normal, tetapi  mesin susah untuk hidup.  kemungkinan besar busi sudah waktunya untuk diganti.

Elektroda busi
Elektroda busi 


Ketika elektroda busi mulai mengalami keausan, tegangan listrik yang dibutuhkan untuk menciptakan bunga api pada celah busi akan semakin meningkat.

Begitu juga adanya tumpukan deposit pada insulator busi dapat mengakibatkan kebocoran tegangan listrik  sehingga  busi tidak dapat menciptakan  loncatan bunga api, akibatnya mesin tidak bisa hidup atau baru dapat hidup setelah beberapa kali distarter.


Kondisi busi yang sudah mulai memperlihatkan gejala rusak sebenarnya dapat dideteksi dengan memeriksa emisi gas buang kendaraan.


Namun pada negara-negara dimana pemeriksaan emisi kendaraan bukan merupakan suatu hal yang diwajibkan penggantian busi biasanya dilakukan jika sudah mulai terasa gangguan pada kinerja mesin.

Banyak pengendara mobil yang merasa telah melakukan penghematan dengan melakukan penggantian busi saat sudah benar-benar rusak saja dan mempengaruhi  kinerja mesin.

Mengapa Busi Perlu Diganti...?


Satu hal yang harus dipahami oleh pengendara mobil adalah bahwa busi merupakan komponen yang akan menurun kemampuannya seiring dengan jarak  tempuh mobil.

Sekalipun menggunakan busi long-life yang dikatakan kuat dipakai sampai 100.000 Km, namun seiring pemakaian akan mengalami keausan juga dan harus diganti.



Berikut Beberapa Alasan Mengapa Busi Perlu Diganti :


Alasan Pertama Mengapa Busi Harus Diganti  :

Penggunaan busi  baru akan memastikan mesin dapat bekerja secara efisien dalam mencapai performa maksimalnya.

Dapat dikatakan adalah hal yang wajar jika terkadang mesin mengalami misfire. Namun gejala misfire yang lebih sering akan terjadi saat jarak tempuh mobil semakin tinggi, dimana hal tersebut akan membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros, emisi gas buang meningkat, dan tenaga mesin berkurang.

Sebelum penerapan teknologi OBD II sulit untuk mengetahui adanya gangguan pada sistem pengapian yang membuat performa mesin jadi menurun.

Gangguan baru dapat dirasakan setelah munculnya beberapa gejala kerusakan seperti :
Putaran mesin tidak stabil
Mesin mati-mati
Mesin susah dihidupkan

Pada tahun 1996 ketika diterapkannya sistem OBD II yang dapat mengontrol kinerja mesin,maka gangguan pada sistem pengapian dapat dideteksi lebih awal sebelum munculnya gejala kerusakan yang mempengaruhi kinerja mesin.

Sistem OBD II akan menyalakan lampu cek engine ketika mendeteksi terjadinya misfire yang  melewati batas yang telah ditentukan dan meningkatkan emisi gas buang 50% lebih tinggi dari seharusnya.

Mobil-mobil yang diproduksi sebelum tahun 19996 dan belum mengadopsi sistem OBD II disarankan untuk melakukan penggantian busi secara berkala untuk mencegah terjadinya misfire yang dapat menurunkan performa mesin.


Interval Penggantian Busi :
Busi konvensional : Ganti setiapa 20.000 - 40.000 Km
Busi platinum atau iridium : Ganti setiap 100.000 Km

Memang tidak semua masalah yang menyangkut kinerja mesin dan emisi gas disebabkan oleh busi yang sudah jelek.  Namun pada banyak kasus penggantian busi  memberikan dampak yang signifikan pada performa dan emisi gas buang mesin.

Penggantian busi dapat mengurangi kandungan HC (hydrocarbon) pada gas buang hingga beberapa ratus PPM (part per million) yang akan sangat menentukan apakah kendaraan dapat lolos uji emisi atau tidak.


Alasan Kedua Mengapa Busi Harus Diganti :

Busi baru akan membuat mesin lebih mudah dihidupkan saat cuaca dingin.
Busi yang sudah jelek biasanya akan menimbulkan gejala kerusakan mesin susah hidup, khususnya pada kondisi dingin.

Jika busi dari mesin yang mengalami gejala seperti disebutkan diatas  diperiksa maka biasanya didapati elektroda busi yang sudah kotor atau aus.

Tegangan listrik yang dibutuhkan busi yang baru untuk menghasilkan loncatan bunga api yang maksimal tidak terlalu besar jika dibandingkan busi yang sudah kotor atau aus dengan demikian pasokan listrik yang lebih besar dapat mengalir ke sistem starter dan injektor  yang akan memperkecil resiko terjadinya misfire.

Kondisi busi yang kotor dan basah akan membuat mesin susah dihidupkan, namun pada banyak kasus kondisi busi yang selalu basah ini tidak ada hubungannya karena keausan busi akibat sudah lama tidak diganti.

Jika mesin banjir oleh bahan bakar saat distarting maka dapat mengakibatkan busi tidak dapat menghasilkan loncatan bunga api yang diperlukan untuk membakar bahan bakar di dalam silinder mesin.

Elektroda busi yang basah cenderung sering terjadi pada mesin yang masih menggunakan sistem karburator karena kebiasaan mengocok pedal gas saat akan menghidupkan mesin akan membuat ruang bakar diisi terlalu banyak bahan bakar.

Problem banjir juga dapat diakibatkan oleh stick choke system yang macet, setelan pelampung terlalu tinggi dan keausan pada needle valve ruang pelampung.

Pada mesin yang sudah menggunakan sistem injeksi problem busi basah jarang sekali terjadi namun dapat juga terjadi jika terjadi kebocoran pada cold start injector atau masalah pada perhitungan campuran bahan bakar dan udara yang membuat campuran terlalu kaya saat starting. Masalah ini akan hilang jika busi sudah kering atau dengan melepas busi kemudian dibersihkan atau diganti.


Alasan Ketiga Mengapa Busi Harus Diganti :

Busi baru dapat memperkecil resiko kerusakan pada catalytic converter.
Misfire pada salah satu busi saja sudah dapat membuat bahan bakar yang tidak terbakar di dalam ruang bakar masuk ke dalam saluran exhaust dan terbakar di dalam catalytic converter hingg terjadi overheat yang akhirnya merusak elemen catalytic converter.

Masuknya bahan bakar yang tidak terbakar dengan jumlah yang sangat banyak ke dalam catalytic converter akan membuat temperatur converter menjadi sangat tinggi yang akan merusak sebagian atau seluruh lapisan catalytic converter, hal ini selanjutnya akan membuat sumbatan pada saluran exhaust dan meningkatkan backpressure yang akan menggangu sistem "pernafasan" mesin.


Tenaga mesin akan berkurang khususnya pada putaran tinggi dan meningkatkan konsumsi bahan bakar, atau mesin akan mogok dan tidak akan langsung hidup saat distarter kembali.

Penggantian catalytic converter akan mengatasi masalah tersebut, namun selama busi yang merupakan sumber masalah sebenarnya tidak diganti, maka cepat atau lambat catalytic converter akan mengalami kerusakan yang sama.


Busi

Busi merupakan komponen vital sistem pengapian yang berfungsi menciptakan api untuk membakar campuran bahan bakar dan udara, apapun sistem pengapian yang digunakan baik yang masih menggunakan distributor konvensional maupun direct ignition atau distributorless system, kondisi busi yang baik merupakan faktor dasar mesin dapat bekerja secara optimal.

Busi memerlukan tegangan berkisar 5000 sampai 25.000 volt dari ignition coil agar dapat menghasilkan loncatan bunga api pada elektrodanya.


Besarnya tegangan listrik yang dibutuhkan busi tergantung pada :

  • Celah busi, semakin lebar celah busi semakin besar tegangan pengapian yang dibutuhkan. celah busi harus disetel sesuai dengan spesifikasi untuk mendapatkan pengapian yang maksimal.
  • Kondisi keausan elektroda busi, busi yang aus akan meningkatkan tegangan pengapian.
  • Busi yang kotor dapat mengakibatkan busi tidak dapat menghasilkan api sama sekali.
  • Beban mesin. Beban mesin yang lebih berat membutuhkan tegangan pengapian yang lebih tinggi. Jika elektroda busi mulai aus atau celahnya terlalu lebar maka dapat mengakibatkan terjadi misfire saat beban berat.
  • Resistance. Tahanan listrik yang besar pada busi dan kabel busi membutuhkan tegangan pengapian yang lebih tinggi. Untuk mendapatkan pengapian yang baik gantilah kabel busi atau fitingnya jika tahanannya sudah terlalu tinggi.
  • Temperatur kerja. Busi yang lebih dingin membutuhkan tegangan pengapian yang lebih tinggi.


Untuk mendapatkan pengapian yang baik maka dibutuhkan tegangan pengapian yang stabil dari ignition coil, kabel busi yang bagus untuk menghantarkan tegangan listrik, dan busi yang dalam keadaan bersih dengan celah yang tepat.

Jika salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi maka loncatan bunga apai yang diinginkan tidak terjadi dan mengakibatkan terjadinya misfire.


Salah satu cara untuk mengetahui waktu penggantian busi adalah dengan merujuk pada jarak tempuh mobil. Jika sudah mencapai kilometer yang ditentukan (20.000 atau 40.000 Km) sejak penggantian busi maka segeralah lakukan penggantian busi.

Cara lain adalah dengan memperhatikan pola secondary ignition menggunakan osiloskop. Jika terjadi gangguan pada busi atau kabel busi maka busi tidak menghasilkan pengapian dan menyebabkan melonjaknya tegangan pengapian iginition coil mencapai output maksimum.

Elektroda busi yang aus atau celahnya yang terlalu besar juga akan menyebabkan melonjaknya firing voltage (sama seperti jika adanya tahanan yang berlebihan pada rotor dan kabel busi). Jika tegangan pengapian yang dibutuhkan melebihi kemampuan dari sistem pengapian maka busi tidak akan menghasilkan api.

Jika pola firing voltage menunjukkan lonjakan mendekati batas tegangan tertinggi kemampuan sistem pengapian maka itu merupakan pertanda busi, cap, rotor atau kabel busi memerlukan perhatian.

Pada sisi yang lain, kondisi busi yang kotor biasanya akan menunjukkan firing voltage yang rendah.
Firing voltage antar tiap silinder tidak boleh bervariasi lebih dari 3Kv. Silinder yang menunjukkan firing voltage yang rendah kemungkinan mempunyai busi yang kotor (grounded spark) dimana kotoran akan menutup celah busi atau kabel busi yang mengalami short circuit.

Silinder yang menunjukkan firing voltage yang tinggi dibandingakan dengan silinder yang lain kemungkinan celah businya terlalu besar atau sudah aus dan kabel busi putus.


Menganalisa Kondisi Busi


Menganalisa kondisi busi yang baru dilepaskan dari mesin dapat memberi banyak informasi mengenai kondisi mesin. Kotoran dan warna elektroda busi dapat memberi petunjuk problem apa yang terjadi pada mesin sehingga akan mempermudah langkah perbaikan.

Kondisi busi normal, elektroda berwarna cokelat muda terang

Pada elektroda busi terdapat lapisan karbon berwarna hitam pekat.

Menandakan campuran bahan bakar yang terlalu kaya atau busi yang sudah lemah. Periksa kemungkinan seperti sistem choke yang macet, setelan pelampung karburator yang tidak tepat atau kebocoran needle valve pelampung, kebocoran injektor, output ignitioan coil yang rendah, atau tahanan yang berlebihan pada kabel busi.


Elektroda busi tampak basah

Elektroda busi yang terlihat basah mengindikasikan tidak terjadinya pembakaran di dalam silinder. Hal ini bisa disebabkan ruang bakar banjir atau kabel busi yang jelek (tahanan berlebih, short atau bocor).

Selain itu kondisi elektroda busi yang basah juga dapat disebabkan oleh kotoran atau uap air pada bagian luar busi yang memberikan jalur konduktive ke ground atau terjadinya retakan di dalam insulator keramik busi yang mengakibatkan busi short ke ground.


Elektroda busi tertutup lapisan oli yang berwarna hitam.

Hal ini disebabkan oleh masuknya oli mesin ke dalam ruang bakar yang bisa berasal dari keausan valve guide, atau valve seal. Mengganti busi dengan tingkat panas lebih tinggi mungkin dapat sedikit memperpanjang usia busi, namun busi apapun  tidak akan mampu bertahan dalam waktu yang lama dengan kondisi tersebut.

Salah satunya jalan untuk memperbaiki masalah tersebut adalah dengan memperbaiki penyebab masuknya oli mesin ke dalam ruang bakar.


Elektroda busi terlihat berwarna kuning mengkilap.

Hal ini disebabkan oleh temperatur yang terlalu tinggi . Mesin mungkin bekerja dengan temperatur yang terlalu tinggi (periksa sistem pendingin mesin), valve EGR mungkin tidak berfungsi atau menggunakan tingkat busi yang terlalu panas dari spesifikasi.

Jika tidak ada masalah pada sistem pendingin mesin dan yang lainnya cobalah ganti busi degan tingkat yang lebih dingin.


Elektroda busi terlihat rusak/patah

Kemungkinan salah menggunakan ukuran busi yang tidak sesuai. Tonjolan busi yang terlalu panjang masuk ke dalam ruang bakar mungkin berbenturan dengan piston atau valve. Selalu gunakan busi yang direkomendasikan oleh pabrikan saat mengganti busi.


Elektroda busi terlihat berwarna putih mengkilap dan tidak ada deposit sama sekali.

Busi mengalami overheat yang dapat diakibatkan problem sistem pendingin mesin dan penggunaaan busi yang terlalu panas, timing pengapian yang tidak tepat atau campuran bahan bakar yang terlalu kurus.


Elektroda busi meleleh

Merupakan gejala terjadinya knocking yang sangat parah. Busi bekerja dalam temperatur yang sangat panas dalam waktu yang lama. Hal ini sangat merusak dan dapat menyebabkan kerusakan pada bagian atas piston.


Tips penggantian busi

Saat akan melakukan penggantian busi dan ingin mengganti busi dengan menggunakan busi long-life platinum atau iridium banyak yang menganggap harganya terlalu mahal.
Harga busi jenis ini mungkin akan terasa lebih mahal dibandingkan dengan busi konvensional, namun jika dihitung dalam jangka panjang menggunakan busi jenis ini justru akan lebih hemat karena waktu penggantiannya yang jauh lebih lama. Busi platinum atau iridium dapat bertahan sampai 100.000 km bahkan lebih.

Menggunakn busi jenis ini juga merupakan pilihan bijaksana jika proses penggantian busi pada mesin mobil cukup rumit karena letak busi yang sulit diakses dan harus melepas banyak komponen.

Opsi lain adalah dengan menggunakan busi high performance. Busi ini memiliki bentuk elektroda  unik yang dapat meningkatkan jangkauan percikan bunga api busi ke campuran bahan bakar dan udara dan mempunyai multiple elektroda yang mengurangi resiko terjadinya misfire.

Busi high performance harganya lebih mahal dibandingkan busi konvensional atau busi long-life namun dapat menjadi alternatif yang baik jika ingin menaikkan performa sistem pengapian.



Ada masalah dengan mobil Anda...??  

Butuh Bantuan...???  

Silahkan hubungi kami..!!




www.montirpro.com  08111857333




Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar