Memahami Cara kerja Pressure Switch Pada Transmisi Otomatis

Memahami Cara Kerja Pressure Switch Untuk Mempermudah Analisa kerusakan Pada Transmisi Otomatis 



Agar dapat melakukan analisa perbaikan yang akurat pada sistem transmisi otomatis maka dibutuhkan pemahaman yang baik tentang cara kerja tiap-tiap komponen yang ada di dalam transmisi otomatis serta ditunjang dengan menggunakan alat diagnosa yang tepat.

Penggunaan scantool dalam menganalisa kerusakan transmisi otomatis akan sangat menghemat waktu  karena banyak data yang dapat dianalisa oleh scantool.


Gambar 1 menunjukkan beberapa solenoid dan pressure switch pada transmisi otomatis. 

Memahami Cara kerja Pressure Switch Pada Transmisi Otomatis
Solenoid dan  pressure switch


Terdapat 4 buah solenoid linear yang berfungsi untuk mengontrol pertautan dan perpindahan gigi transmisi (gambar 2)


Gambar 2
.


Solenoid yang digunakan merupakan pulse width modulated solenoid yang berfungsi untuk mengontrol aliran fluida ke shift valve (gambar 3).


Gambar 3




Jika terjadi kerusakan mekanikal pada solenoid maka clutch yang dikontrol oleh solenoid-solenoid tersebut tidak akan dapat bekerja dengan baik.


  • Linear A mengontrol  tekanan untuk Clutch B1, K1, dan K2, type  normally vented.
  • Linear B mengontrol tekanan untuk clutch  B2 dan  K3, type  normally closed.
  • Linear C mengontrol pertautan forward dan reverse dan pengaktifan TCC, type normally vented.
  • Linear D mengontrol tekanan mainline pressure, type normally vented.


Selain solenoid PWM juga terdapat empat on-off shift solenoid yang berfungsi untuk mengontrol shift valve yang bertugas mengalirkan oli ke clutch linear solenoid yang sesuai dan pressure switch yang memonitor pergerakan valve.


  • Pressure switch 1 memonitor  control valve 1, yang digerakkan oleh linear solenoid C.
  • Pressure switch 2 memonitor control valve 2, yang digerakkan oleh linear solenoid B.
  • Pressure switch 3 memonitor  shift valve 1, yang digerakkan oleh shift solenoid 1.
  • Pressure switch 4 memonitor shift valve 2, yang digerakkan oleh shift solenoid 2.
  • Pressure switch 5 memonitor shift valve 3, yang digerakkan oleh shift solenoid 3.
  • Pressure switch 6 memonitor shift valve 4, yang digerakkan oleh shift solenoid 3.
  • Pressure switch 7 memonitor control valve 3, yang digerakkan oleh linear solenoid C.
  • Pressure switch 8 memonitor  manual valve.
Sebagai contoh terdapat masalah gigi 3 atau gigi mundur, informasi-informasi diatas dapat digunakan untuk menganalisa problem tersebut.


Clutch K3 merupakan komponen yang berfungsi untuk mengatur pertautan gigi 3 dan gigi mundur. , sehingga sering dianggap sebagai penyebab utama gangguan tersebut. Setelah clutch drum  K3 dilepaskan ternyata tidak ada tanda-tanda kerusakan.


Seperti dapat lihat pada tabel  clutch application, linear solenoid B berfungsi mengontrol tekanan ke clutch K3 dan  B2. 

Clutch K3 akan  ON pada posisi gigi 3, gigi 5 dan mundur, sedangkan clutch B2 hanya akan  ON saat gigi mundur saja.

Clutch K3 menerima oli melalui shift valve 3 dan control valve 2 yang dikontrol oleh linear solenoid B.


Jika saat dilakukan test drive tidak terlihat perubahan pada pressure switch 2 selama perpindahan gigi 2 ke gigi 3 dan tidak muncul kode DTC yang mengarah pada sirkuit  linear solenoid B, kemungkinan terjadi kerusakan mekanikal pada solenoid atau valve macet.

Hal inilah yang terjadi pada problem tersebut. Lepaskan  linear B solenoid untuk memeriksa control valve 2.  Jika dapat bergerak bebas maka  linear solenoid B harus diganti untuk menyelesaikan masalah tersebut.


Pada sisi lain, jika pressure switch 2 terlihat aktif, sedangkan pressure switch 5 yang memonitor shift valve 3 tidak aktif, maka saluran fluida yang menuju ke clutch K3 terbuka namun kemungkinan ada kebocoran di dalam sirkuit atau kerusakan komponen internal transmisi.

Pada transmisi ini, jika terlihat perpindahan atau shift namun tidak ada perubahan status pada switch, maka masalahnya mudah untuk didiagnosa. 

Buka oil pan transmisi dan hubungkan kabel pressure switch ke ground valve body sambil melihat perubahan status pada scantool. Jika ada perubahan status maka control unit dan wiring harness tidak ada masalah.


Kemudian periksa  switch apakah membuka atau menutup ketika diberikan sedikit tekanan udara. Jika switch bekerja, berarti kondisinya OK. Jika switch OK maka dapat disimpulkan valve yang dikontrol switch tersebut tidak bekerja. Jika valve dapat bergerak lancar, periksa kerusakan mekanikal pada solenoid.


Saat ini kebanyakan transmisi otomatis menggunakan pressure switch, dengan memahami cara kerjanya dan apa yang dimonitor oleh pressure switch tersebut maka akan lebih mudah dan akurat saat melakukan analisa kerusakan transmisi otomatis.




Berlangganan update artikel terbaru via email:

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel