Bengkel Mobil Profesional MontirPro Auto Care

Servis, Perawatan dan Perbaikan Mobil Modern Dengan Teknologi Terkini.

Layanan Bengkel

Diagnosa Scanner

Pemeriksaan kendaraan menggunakan alat modern.

Servis Berkala

Perawatan sesuai standar pabrikan.

Tune Up

Menjaga performa mesin tetap optimal.

AC Mobil

Perawatan dan perbaikan AC kendaraan.

Overhaul Mesin

Perbaikan menyeluruh mesin kendaraan.

Fleet Service

Memastikan armada anda selalu dalam kondisi Prima

Artikel Terbaru Montirpro

Video Terbaru MontirPro Indonesia

Subscribe Channel

Testimoni Pelanggan

⭐⭐⭐⭐⭐

Pelayanan cepat dan profesional.

⭐⭐⭐⭐⭐

Harga transparan dan memuaskan.

⭐⭐⭐⭐⭐

Mekanik berpengalaman dan ramah.

Mobil Bermasalah?

Konsultasikan Sekarang Dengan Tim MontirPro.

Booking Via WhatsApp
💬

Biaya Cas Mobil Listrik vs Isi BBM: Mana yang Lebih Hemat? Simulasi Biaya Harian, Bulanan, dan Tahunan di Indonesia

Biaya cas mobil listrik vs isi BBM, mana yang lebih hemat? Simak simulasi biaya nyata, biaya per km, hingga penghematan tahunan di Indonesia.

Baca Juga

 

Perbandingan biaya cas vs isi BBM

Biaya Cas Mobil Listrik vs Isi BBM: Mana yang Benar-Benar Lebih Hemat?

Beberapa tahun lalu, hampir setiap pelanggan yang datang ke bengkel masih menanyakan tenaga, performa mesin, atau biaya servis berkala. Kini pertanyaannya mulai berubah.

"Kalau dipakai setiap hari, lebih murah cas mobil listrik atau isi bensin?"

Pertanyaan tersebut muncul hampir setiap minggu. Bukan hanya dari calon pemilik mobil listrik, tetapi juga pemilik armada perusahaan, pengemudi operasional, hingga investor yang mulai melirik perkembangan kendaraan listrik di Indonesia.

Dari pengalaman kami berdiskusi dengan banyak pengguna kendaraan listrik, sebagian besar orang justru tidak terlalu mempermasalahkan harga mobil saat membeli. Yang mereka ingin ketahui adalah biaya operasional setiap hari. Sebab kendaraan digunakan bertahun-tahun, sementara biaya energi terus dikeluarkan selama mobil dipakai.

Jawabannya memang sederhana: mobil listrik hampir selalu lebih murah untuk digunakan dibandingkan mobil berbahan bakar bensin.

Namun, seberapa besar selisihnya?

Apakah benar biaya cas hanya seperempat biaya membeli BBM?

Bagaimana jika menggunakan SPKLU DC Fast Charging?

Bagaimana jika dibandingkan dengan mobil LCGC yang terkenal irit?

Artikel ini akan mengupasnya menggunakan simulasi yang realistis berdasarkan kondisi di Indonesia sehingga Anda bisa menghitung sendiri biaya operasional kendaraan sesuai kebutuhan.

Dalam praktik sehari-hari, biaya energi hanyalah salah satu komponen kepemilikan kendaraan. Karena itu, ketika menghitung total pengeluaran jangka panjang, kami biasanya juga mempertimbangkan biaya kepemilikan mobil listrik dibanding mobil bensin (https://www.montirpro.com/2026/06/biaya-kepemilikan-mobil-listrik-vs-mobil-bensin.html) agar hasil perhitungannya lebih menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada biaya pengisian energi.


Mengapa Biaya Energi Menjadi Faktor Terbesar Setelah Harga Kendaraan?

Setelah kendaraan dibeli, pengeluaran terbesar berikutnya berasal dari energi.

Mobil bensin membutuhkan BBM setiap kali digunakan. Semakin jauh perjalanan, semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan.

Mobil listrik bekerja berbeda. Energinya berasal dari listrik yang disimpan di dalam baterai traksi. Efisiensinya jauh lebih tinggi dibanding mesin pembakaran internal karena energi listrik lebih banyak diubah menjadi tenaga penggerak dibandingkan panas yang terbuang.

Itulah sebabnya biaya perjalanan per kilometer mobil listrik jauh lebih rendah.

Dalam dunia fleet management, biaya energi bahkan menjadi salah satu indikator utama untuk menghitung Total Cost of Ownership (TCO). Selisih beberapa ratus rupiah per kilometer mungkin terlihat kecil, tetapi ketika kendaraan menempuh puluhan ribu kilometer setiap tahun, nilainya bisa mencapai puluhan juta rupiah.


Cara Menghitung Biaya Cas Mobil Listrik

Perhitungannya sebenarnya sangat sederhana.

Biaya Cas = Kapasitas Baterai × Tarif Listrik

Sebagai contoh, sebuah mobil listrik memiliki baterai 50 kWh.

Tarif listrik rumah sekitar Rp1.699 per kWh.

Maka:

50 × Rp1.699 = Rp84.950

Artinya, mengisi baterai dari 0% hingga 100% membutuhkan biaya sekitar Rp85 ribu.

Dalam praktiknya, pengguna hampir tidak pernah mengisi baterai dari kondisi benar-benar kosong. Umumnya pengisian dilakukan saat baterai masih berada pada kisaran 20–40 persen sehingga biaya aktual biasanya lebih rendah.


Simulasi Biaya Cas Beberapa Mobil Listrik Populer

MobilKapasitas BateraiEstimasi Biaya Cas Penuh
Wuling Air EV Lite17,3 kWh± Rp29.000
Wuling Binguo EV31,9 kWh± Rp54.000
BYD Dolphin44,9 kWh± Rp76.000
Hyundai Kona Electric48,6 kWh± Rp83.000
BYD Atto 360,5 kWh± Rp103.000
Hyundai Ioniq 558 kWh± Rp98.000

Angka tersebut menggunakan tarif listrik rumah tangga non-subsidi sebagai ilustrasi.

Jika menggunakan tarif berbeda atau melakukan pengisian pada fasilitas komersial, hasil akhirnya tentu dapat berubah.


Berapa Jarak yang Bisa Ditempuh?

Inilah yang sering membuat banyak orang terkejut.

Sebagai contoh, baterai sekitar 60 kWh mampu membawa kendaraan melaju sekitar 400–500 kilometer, tergantung gaya mengemudi, kondisi jalan, penggunaan AC, serta beban kendaraan.

Artinya, biaya sekitar Rp100 ribu sudah cukup untuk perjalanan Jakarta menuju Semarang atau Bandung pulang-pergi dalam kondisi tertentu.

Bandingkan dengan kendaraan bensin yang membutuhkan biaya beberapa kali lipat untuk jarak yang sama.


Simulasi Biaya Per Kilometer

Cara paling mudah membandingkan kendaraan adalah menghitung biaya per kilometer.

Misalnya sebuah mobil listrik:

  • Kapasitas baterai 60 kWh

  • Biaya cas penuh Rp102.000

  • Jarak tempuh 430 km

Biaya per kilometer:

Rp102.000 ÷ 430 = sekitar Rp237/km

Bandingkan dengan mobil bensin yang mengonsumsi 1 liter untuk 12 km.

Jika harga Pertalite atau Pertamax berada di kisaran Rp10.000–Rp12.000 per liter, biaya perjalanan dapat mencapai sekitar Rp830–Rp1.000 per kilometer, bahkan lebih tinggi ketika kondisi lalu lintas padat.

Perbedaan tersebut menjelaskan mengapa banyak perusahaan logistik mulai mempertimbangkan elektrifikasi armada operasionalnya.

Bahkan sebelum menghitung biaya servis berkala, selisih biaya energi saja sudah mampu memberikan penghematan yang cukup signifikan dalam jangka panjang.


Cas di Rumah atau SPKLU, Mana yang Lebih Murah?

Mayoritas pemilik mobil listrik di Indonesia lebih sering melakukan pengisian daya di rumah.

Alasannya sederhana.

Selain lebih praktis, tarif listrik rumah umumnya lebih murah dibandingkan pengisian cepat di SPKLU.

Fast Charging memang menawarkan waktu pengisian jauh lebih singkat, tetapi biaya yang dibayarkan juga lebih tinggi karena mencakup penggunaan infrastruktur berdaya besar.

Dalam praktiknya, banyak pengguna menjadikan pengisian rumah sebagai rutinitas harian, sementara SPKLU digunakan ketika melakukan perjalanan antarkota atau saat kondisi mendesak.

Agar proses pengisian tetap efisien dan kesehatan baterai terjaga dalam jangka panjang, penting memahami cara menjaga performa fast charging pada mobil listrik (https://www.montirpro.com/2026/06/cara-menjaga-performa-fast-charging-mobil-listrik.html), karena kebiasaan pengisian yang kurang tepat dapat memengaruhi performa baterai selama bertahun-tahun.



Simulasi Biaya Isi BBM vs Cas Mobil Listrik: Berapa Selisihnya dalam Setahun?

Setelah mengetahui biaya pengisian baterai mobil listrik, sekarang mari kita bandingkan dengan biaya bahan bakar mobil bensin menggunakan kondisi yang paling sering ditemui di Indonesia.

Agar hasilnya adil, kami menggunakan asumsi yang sederhana dan mudah dipahami.

  • Harga BBM: Rp12.500/liter

  • Tarif listrik rumah: Rp1.699/kWh

  • Penggunaan kendaraan normal.

  • Kondisi lalu lintas kombinasi kota dan tol.

Dalam praktik di lapangan, angka tersebut tentu dapat berubah mengikuti harga energi, gaya mengemudi, tekanan ban, beban kendaraan, suhu udara, hingga kondisi jalan. Namun pola perbandingannya tetap sama.


Perbandingan Mobil Listrik vs Mobil Bensin Populer

KendaraanKonsumsi EnergiBiaya per km
Wuling Air EV±10 kWh/100 km±Rp170/km
BYD Dolphin±12 kWh/100 km±Rp205/km
Hyundai Ioniq 5±15 kWh/100 km±Rp255/km
Toyota Avanza 1.513 km/l±Rp960/km
Honda Brio16 km/l±Rp780/km
Toyota Innova Zenix Bensin12 km/l±Rp1.040/km
Mitsubishi Xpander12 km/l±Rp1.040/km
Toyota Fortuner Diesel11 km/l±Rp1.130/km

Dari tabel di atas terlihat bahwa mobil listrik umumnya membutuhkan biaya energi hanya sekitar 20–30 persen dibandingkan mobil berbahan bakar minyak.

Selisih inilah yang menjadi alasan utama banyak perusahaan mulai beralih ke kendaraan listrik untuk operasional harian.


Simulasi Penggunaan 20.000 Kilometer per Tahun

Jarak tempuh 20.000 km merupakan angka yang cukup umum untuk kendaraan pribadi maupun kendaraan operasional ringan.

Mari kita hitung.

Mobil Listrik

Misalnya biaya energi rata-rata:

Rp230/km

Total biaya:

20.000 × Rp230

= Rp4.600.000 per tahun


Mobil Bensin

Misalnya biaya BBM:

Rp950/km

Total biaya:

20.000 × Rp950

= Rp19.000.000 per tahun


Selisih Pengeluaran

Jenis KendaraanBiaya Energi Tahunan
Mobil Listrik±Rp4,6 juta
Mobil Bensin±Rp19 juta
Potensi Penghematan±Rp14,4 juta/tahun

Angka tersebut baru berasal dari biaya energi.

Belum termasuk penghematan dari sisi servis berkala yang juga lebih rendah pada mobil listrik karena tidak memerlukan penggantian oli mesin, filter oli, busi, maupun berbagai komponen sistem pembakaran.

Karena itulah banyak calon pembeli juga mempertimbangkan apakah mobil listrik memang memerlukan penggantian oli seperti mobil konvensional (https://www.montirpro.com/2026/06/apakah-mobil-listrik-perlu-ganti-oli.html). Setelah memahami perbedaannya, gambaran total biaya kepemilikan menjadi jauh lebih jelas.


Mengapa Mobil Listrik Lebih Efisien?

Pertanyaan ini cukup sering muncul saat kami berdiskusi dengan pelanggan.

Jawabannya terletak pada efisiensi sistem penggeraknya.

Mesin bensin hanya mampu mengubah sekitar 25–35 persen energi bahan bakar menjadi tenaga penggerak. Sisanya hilang dalam bentuk panas melalui knalpot, radiator, dan gesekan mekanis.

Motor listrik jauh berbeda.

Efisiensinya dapat mencapai lebih dari 90 persen.

Artinya, sebagian besar energi listrik benar-benar digunakan untuk memutar roda.

Karena energi yang terbuang jauh lebih sedikit, biaya operasional pun ikut turun secara signifikan.


Bagaimana Jika Menggunakan Fast Charging?

Banyak orang mengira seluruh pengguna mobil listrik selalu mengisi daya menggunakan DC Fast Charging.

Padahal kenyataannya tidak demikian.

Dari pengalaman kami berdiskusi dengan berbagai pemilik kendaraan listrik, lebih dari 80 persen pengisian dilakukan di rumah, terutama pada malam hari ketika kendaraan sedang tidak digunakan.

Fast Charging umumnya dipakai ketika:

  • perjalanan luar kota,

  • perjalanan bisnis,

  • kondisi darurat,

  • kendaraan operasional dengan jam kerja tinggi.

Biaya Fast Charging memang lebih mahal dibandingkan listrik rumah.

Namun jika penggunaannya hanya sesekali, dampaknya terhadap biaya operasional tahunan relatif kecil.


Pengaruh Gaya Mengemudi terhadap Biaya Cas

Banyak orang beranggapan biaya cas selalu sama.

Padahal konsumsi energi mobil listrik dipengaruhi oleh banyak faktor.

Sebagai teknisi, kami cukup sering menemukan perbedaan konsumsi energi hingga 25 persen pada kendaraan yang sama.

Faktor-faktor yang paling berpengaruh antara lain:

  • kecepatan rata-rata,

  • penggunaan AC,

  • tekanan ban,

  • muatan kendaraan,

  • kondisi jalan menanjak,

  • suhu lingkungan,

  • pola akselerasi.

Pengemudi yang sering berakselerasi agresif biasanya menghabiskan energi lebih besar dibandingkan pengemudi yang menjaga kecepatan secara stabil.

Sebaliknya, penggunaan fitur regenerative braking secara optimal mampu membantu mengembalikan sebagian energi ke baterai sehingga konsumsi listrik menjadi lebih rendah. Prinsip ini juga berkaitan erat dengan perawatan sistem rem regeneratif pada mobil listrik (https://www.montirpro.com/2026/06/perawatan-rem-regeneratif-mobil-listrik.html), karena kondisi sistem pengereman ikut memengaruhi efisiensi pemulihan energi.


Apakah Penghematan Masih Terasa untuk Kendaraan Fleet?

Jawabannya justru semakin besar.

Misalkan sebuah perusahaan memiliki:

  • 50 kendaraan

  • masing-masing menempuh 30.000 km per tahun.

Jika selisih biaya energi mencapai sekitar Rp700 per kilometer, maka penghematan yang diperoleh adalah:

50 × 30.000 × Rp700

= sekitar Rp1,05 miliar setiap tahun.

Belum termasuk pengurangan biaya servis berkala dan berkurangnya waktu kendaraan berhenti di bengkel.

Tidak mengherankan apabila perusahaan logistik, rental kendaraan, maupun perusahaan distribusi mulai menghitung elektrifikasi armadanya secara serius. Dalam proses tersebut, penerapan strategi Fleet Service Management (https://www.montirpro.com/2026/06/fleet-service-management-strategi.html) juga menjadi faktor penting agar kendaraan tetap produktif sekaligus menekan biaya operasional jangka panjang.


Apakah Selisih Harga Mobil Listrik Bisa Tertutup?

Ini merupakan pertanyaan yang paling sering kami dengar.

Jawabannya bergantung pada beberapa faktor:

  • harga beli kendaraan,

  • jarak tempuh tahunan,

  • harga BBM,

  • tarif listrik,

  • biaya perawatan,

  • nilai jual kembali.

Bagi pengguna yang menempuh perjalanan jauh setiap hari, selisih biaya pembelian biasanya dapat tertutup lebih cepat karena penghematan energi yang terus berlangsung setiap bulan.

Sebaliknya, bagi kendaraan yang hanya dipakai sesekali, waktu balik modal tentu menjadi lebih panjang.

Karena itu, keputusan membeli mobil listrik sebaiknya tidak hanya melihat harga awal kendaraan, tetapi juga menghitung biaya kepemilikan selama lima hingga sepuluh tahun.



Pengalaman Teknisi: Mengapa Pengguna Mobil Listrik Jarang Mengeluhkan Biaya Operasional?

Selama menangani berbagai jenis kendaraan, baik mobil bermesin bensin, diesel, hybrid, maupun listrik, ada satu pola yang cukup menarik.

Keluhan pengguna mobil konvensional hampir selalu berkisar pada harga BBM yang naik, konsumsi bahan bakar yang terasa boros, hingga biaya servis berkala yang semakin besar seiring bertambahnya usia kendaraan.

Sebaliknya, pemilik mobil listrik lebih sering datang untuk pemeriksaan berkala, pembaruan perangkat lunak, inspeksi sistem kelistrikan tegangan tinggi, atau pengecekan kondisi baterai. Sangat jarang kami mendengar keluhan bahwa biaya pengisian listrik terlalu mahal.

Hal ini bukan berarti mobil listrik tidak memiliki biaya perawatan. Tetap ada komponen yang harus diperiksa secara berkala, seperti sistem pendingin baterai, rem, suspensi, ban, filter kabin, hingga cairan pendingin tertentu. Namun secara keseluruhan, jumlah komponen yang bergerak jauh lebih sedikit dibandingkan mesin pembakaran internal.

Karena alasan tersebut, banyak pemilik kendaraan mulai memahami pentingnya checklist servis berkala kendaraan listrik (https://www.montirpro.com/2026/06/checklist-servis-berkala-mobil-listrik.html) agar efisiensi energi dan usia baterai tetap optimal selama bertahun-tahun.


Mitos yang Masih Banyak Dipercaya

Perkembangan mobil listrik di Indonesia memang sangat cepat. Sayangnya, masih banyak informasi yang kurang tepat beredar di media sosial maupun forum internet.

Mari kita luruskan beberapa di antaranya.

"Cas mobil listrik lebih mahal daripada beli bensin."

Ini merupakan mitos yang paling sering kami dengar.

Jika pengisian dilakukan di rumah menggunakan tarif listrik normal, biaya energi mobil listrik hampir selalu lebih rendah dibandingkan kendaraan bensin maupun diesel untuk jarak tempuh yang sama.

Yang sering menimbulkan persepsi mahal adalah penggunaan DC Fast Charging secara terus-menerus. Padahal sebagian besar pemilik kendaraan lebih sering mengisi daya di rumah.


"Tagihan listrik rumah akan melonjak drastis."

Tagihan listrik memang akan bertambah.

Namun biaya tersebut menggantikan pengeluaran untuk membeli BBM.

Sebagai ilustrasi sederhana, seseorang yang sebelumnya menghabiskan Rp2 juta setiap bulan untuk membeli bensin mungkin hanya membutuhkan sekitar Rp600–700 ribu biaya listrik tambahan setelah menggunakan mobil listrik.

Secara total, pengeluaran tetap lebih rendah.


"Semakin sering dicas, baterai cepat rusak."

Faktanya, sistem Battery Management System (BMS) pada mobil listrik modern dirancang untuk mengatur proses pengisian agar baterai tetap bekerja pada kondisi yang aman.

Yang lebih berpengaruh terhadap umur baterai justru kebiasaan penggunaan, suhu kerja, frekuensi fast charging yang berlebihan, serta cara penyimpanan kendaraan.

Karena itu, kami selalu menyarankan pemilik kendaraan memahami cara merawat baterai mobil listrik agar lebih awet (https://www.montirpro.com/2026/06/cara-merawat-mobil-listrik-agar-baterai.html) sehingga performanya tetap stabil dalam jangka panjang.


Jadi, Mana yang Lebih Hemat?

Jika hanya membandingkan biaya energi, jawabannya sangat jelas.

Mobil listrik unggul.

Bahkan pada kendaraan dengan baterai berkapasitas besar, biaya perjalanan per kilometer umumnya masih jauh di bawah kendaraan bensin.

Namun keputusan membeli kendaraan tidak boleh hanya melihat biaya cas.

Pertimbangkan juga:

FaktorMobil ListrikMobil Bensin
Biaya energi⭐ Sangat rendahLebih tinggi
Biaya servis berkalaLebih rendahLebih tinggi
Jumlah komponen bergerakSedikitBanyak
EmisiNol di knalpotAda
Pengisian energiRumah & SPKLUSPBU
Cocok perjalanan harianSangat cocokCocok
Cocok perjalanan jauhSemakin baik dengan jaringan SPKLUSangat baik

Bagi pengguna dengan mobilitas tinggi, selisih biaya operasional akan semakin terasa dari tahun ke tahun.

Sebaliknya, jika kendaraan hanya digunakan sesekali, faktor harga beli dan kebutuhan penggunaan tetap harus menjadi pertimbangan utama.


FAQ

Berapa biaya cas mobil listrik penuh di rumah?

Tergantung kapasitas baterai. Sebagai gambaran, mobil dengan baterai sekitar 50–60 kWh membutuhkan biaya sekitar Rp85.000–Rp105.000 untuk pengisian penuh menggunakan tarif listrik rumah non-subsidi.


Apakah cas mobil listrik lebih murah daripada isi bensin?

Ya. Dalam sebagian besar kondisi penggunaan di Indonesia, biaya energi mobil listrik hanya sekitar 20–30% dibandingkan biaya BBM untuk jarak tempuh yang sama.


Berapa biaya perjalanan mobil listrik per kilometer?

Rata-rata berada pada kisaran Rp170–Rp300 per kilometer, tergantung efisiensi kendaraan, tarif listrik, dan gaya mengemudi.


Apakah Fast Charging selalu mahal?

Fast Charging memang memiliki tarif lebih tinggi dibandingkan pengisian di rumah. Namun karena umumnya hanya digunakan saat perjalanan jauh, pengaruhnya terhadap total biaya operasional tahunan relatif kecil.


Apakah mobil listrik tetap memerlukan servis?

Ya.

Mobil listrik tetap membutuhkan inspeksi berkala terhadap sistem pengereman, suspensi, ban, filter kabin, sistem pendingin baterai, perangkat lunak, dan komponen kelistrikan tegangan tinggi. Agar proses tersebut aman, sebaiknya kendaraan ditangani oleh teknisi bersertifikat untuk servis mobil listrik (https://www.montirpro.com/2026/06/mengapa-servis-mobil-listrik-harus-ditangani-teknisi-bersertifikat.html).


Kesimpulan

Jika fokus Anda adalah menekan biaya operasional harian, mobil listrik merupakan pilihan yang sangat menarik. Berdasarkan simulasi pada artikel ini, biaya pengisian daya di rumah bisa hanya seperempat hingga sepertiga dari biaya membeli BBM untuk jarak tempuh yang setara.

Keunggulan tersebut semakin terasa ketika kendaraan digunakan setiap hari atau menjadi bagian dari armada perusahaan. Penghematan tidak hanya berasal dari energi, tetapi juga dari biaya perawatan yang lebih rendah serta jumlah komponen mekanis yang lebih sedikit.

Meski demikian, keputusan membeli kendaraan tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan penggunaan, harga pembelian, ketersediaan fasilitas pengisian daya, dan total biaya kepemilikan dalam jangka panjang. Dengan menghitung seluruh aspek tersebut, Anda dapat menentukan apakah mobil listrik benar-benar memberikan nilai ekonomi terbaik sesuai kebutuhan Anda.


Percayakan Perawatan Mobil Anda kepada MontirPro Indonesia

Mobil listrik membutuhkan penanganan yang berbeda dengan mobil konvensional. Pemeriksaan baterai tegangan tinggi, sistem pendingin, perangkat lunak, hingga inspeksi keselamatan harus dilakukan menggunakan prosedur dan peralatan yang tepat.

MontirPro Indonesia siap membantu Anda dengan layanan inspeksi, servis berkala, konsultasi teknis, pelatihan otomotif, hingga fleet service untuk kendaraan listrik maupun kendaraan konvensional.

🌐 www.montirpro.com
📞 0811-1857-333

Hubungi tim MontirPro Indonesia untuk mendapatkan konsultasi dan solusi perawatan kendaraan yang profesional, transparan, dan sesuai standar industri.



Gabung dalam percakapan