Bengkel Mobil Profesional MontirPro Auto Care

Servis, Perawatan dan Perbaikan Mobil Modern Dengan Teknologi Terkini.

Layanan Bengkel

Diagnosa Scanner

Pemeriksaan kendaraan menggunakan alat modern.

Servis Berkala

Perawatan sesuai standar pabrikan.

Tune Up

Menjaga performa mesin tetap optimal.

AC Mobil

Perawatan dan perbaikan AC kendaraan.

Overhaul Mesin

Perbaikan menyeluruh mesin kendaraan.

Fleet Service

Memastikan armada anda selalu dalam kondisi Prima

Artikel Terbaru Montirpro

Video Terbaru MontirPro Indonesia

Subscribe Channel

Testimoni Pelanggan

⭐⭐⭐⭐⭐

Pelayanan cepat dan profesional.

⭐⭐⭐⭐⭐

Harga transparan dan memuaskan.

⭐⭐⭐⭐⭐

Mekanik berpengalaman dan ramah.

Mobil Bermasalah?

Konsultasikan Sekarang Dengan Tim MontirPro.

Booking Via WhatsApp
💬

CLBK di Bengkel: Chating Lama, Beli Kaga! Cara Menghadapi Price Shopper Tanpa Buang Waktu

Menghadapi price shopper di bengkel mobil tanpa kehilangan pelanggan. Strategi menjawab pertanyaan harga dan mengubah telepon menjadi peluang servis

Baca Juga

Cara Menghadapi Price Shopper Tanpa Buang Waktu


“Mas, servis mobil segini berapa?”

“Kalau ganti kampas rem berapa?”

“Kalau turun mesin kira-kira habis berapa?”

Pertanyaan seperti ini sudah sangat biasa diterima bengkel mobil. Apalagi sekarang pelanggan bisa dengan mudah menghubungi beberapa bengkel sekaligus hanya dari ponsel.

Chat WhatsApp, telepon, media sosial, sampai marketplace membuat pelanggan punya banyak pilihan sebelum menentukan tempat servis.

Bagi pemilik bengkel, kondisi seperti ini kadang terasa seperti CLBK: Chating Lama, Beli Kaga.

Sudah panjang lebar menjelaskan, sudah menghabiskan waktu menjawab pertanyaan, tetapi ujung-ujungnya pelanggan berkata, “Oke Mas, nanti saya kabari.”

Belum tentu datang.

Fenomena seperti ini biasa disebut price shopper, yaitu calon pelanggan yang sedang mencari informasi harga dari beberapa penyedia jasa sebelum menentukan pilihan.

Masalahnya, apakah setiap orang yang bertanya harga harus dianggap hanya mencari bengkel termurah?

Menurut kami, tidak sesederhana itu.

Justru dari percakapan pertama inilah bengkel mempunyai kesempatan untuk membangun kepercayaan.

Kenapa Price Shopper Bisa Menjadi Masalah bagi Bengkel?

Bengkel mobil sebenarnya menjual sesuatu yang berbeda dengan toko spare part.

Yang kita jual bukan hanya komponen, tetapi juga waktu kerja, keahlian teknisi, proses diagnosis, pengalaman, dan solusi terhadap masalah kendaraan.

Karena itu, waktu seorang Service Advisor atau pemilik bengkel sangat berharga.

Bayangkan sebuah bengkel kecil yang hanya dikelola oleh beberapa orang. Pemiliknya sekaligus menerima kendaraan, mengatur pekerjaan teknisi, membeli spare part, membuat estimasi, menangani administrasi, bahkan kadang ikut turun langsung mengerjakan mobil.

Kemudian dalam satu jam masuk sepuluh telepon yang semuanya hanya bertanya harga.

Kalau semuanya dilayani dengan cara yang sama, produktivitas bengkel bisa ikut terganggu.

Di sinilah kita membutuhkan proses komunikasi yang lebih baik.

Bukan dengan menghindari pelanggan yang bertanya harga, tetapi dengan mengubah pertanyaan harga menjadi percakapan mengenai kebutuhan kendaraan.

Hal ini juga berkaitan dengan bagaimana bengkel memahami kebutuhan pelanggan, karena pelanggan sebenarnya tidak hanya mencari angka murah. Mereka ingin tahu apakah bengkel mampu menyelesaikan masalah mobilnya dengan aman dan masuk akal.

Pemahaman tersebut sejalan dengan pembahasan mengenai kebutuhan utama pelanggan bengkel.

Jangan Langsung Menjawab Harga

Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah ketika pelanggan menelepon:

“Pak, ganti shockbreaker depan berapa?”

Kemudian bengkel langsung menjawab:

“Rp1,5 juta.”

Selesai.

Percakapan berhenti di angka.

Pelanggan kemudian menelepon bengkel lain.

“Pak, ganti shockbreaker depan berapa?”

“Rp1,2 juta.”

Nah, bengkel pertama akhirnya kalah hanya karena angka yang dibandingkan pelanggan lebih tinggi.

Padahal kita belum tahu kondisi mobilnya.

Apakah benar hanya shockbreaker yang bermasalah?

Apakah mounting masih bagus?

Apakah ada masalah pada lower arm, ball joint, atau komponen suspensi lainnya?

Karena itu, sebelum memberikan estimasi, cobalah menggali informasi terlebih dahulu.

Bukan dengan menginterogasi pelanggan, tentu saja.

Cukup dengan pertanyaan sederhana.

“Apa yang Terjadi dengan Mobilnya?”

Kalimat sederhana seperti:

“Mobilnya ada masalah apa, Pak?”

atau

“Keluhannya seperti apa?”

bisa mengubah arah percakapan.

Misalnya pelanggan menjawab:

“Mobil saya kalau jalan pelan bunyi gluduk dari depan.”

Sekarang kita mempunyai informasi yang jauh lebih berguna daripada sekadar “mau ganti shockbreaker”.

Kita bisa menjelaskan bahwa bunyi tersebut belum tentu berasal dari shockbreaker. Ada beberapa komponen yang perlu diperiksa terlebih dahulu.

Di titik ini, pelanggan mulai melihat bengkel bukan sekadar sebagai tempat yang menjual jasa dengan harga tertentu.

Bengkel mulai terlihat sebagai pihak yang membantu mencari solusi.

Tidak Semua Price Shopper Hanya Mencari Harga Termurah

Ini bagian yang sering dilupakan.

Orang yang menelepon dan bertanya harga belum tentu sedang mencari harga paling murah.

Setidaknya ada beberapa kemungkinan.

Pelanggan Lama yang Lupa Estimasi

Pelanggan mungkin pernah datang sebelumnya dan mendapatkan estimasi perbaikan.

Beberapa minggu kemudian dia lupa angkanya.

Akhirnya dia menelepon kembali.

Kalau pelanggan seperti ini langsung kita anggap sebagai price shopper, kita justru bisa kehilangan pelanggan lama.

Pelanggan yang Sedang Mencari Bengkel Baru

Ada juga pelanggan yang sebenarnya sedang kecewa dengan bengkel sebelumnya.

Mobilnya sudah beberapa kali diperbaiki tetapi masalah belum selesai.

Akhirnya dia mulai mencari bengkel lain.

Dalam kondisi seperti ini, harga memang penting. Tetapi kepercayaan jauh lebih penting.

Pelanggan ingin merasa mobilnya berada di tangan orang yang memahami masalahnya.

Karena itulah hubungan antara bengkel dan pelanggan tidak berhenti pada transaksi. Unsur kepercayaan dan kedekatan personal sering menjadi alasan seseorang kembali ke bengkel yang sama.

Hal tersebut juga berkaitan dengan bagaimana hubungan baik antara bengkel dan pelanggan bisa berkembang menjadi hubungan jangka panjang.

Pelanggan yang Memang Sedang Membandingkan Harga

Tentu saja ada juga pelanggan yang benar-benar ingin mencari harga termurah.

Tidak perlu tersinggung.

Itu hak pelanggan.

Di era informasi seperti sekarang, pelanggan memang mempunyai kesempatan untuk membandingkan harga dari beberapa bengkel sebelum mengambil keputusan.

Tugas bengkel bukan memaksa pelanggan memilih kita.

Tugas kita adalah memberikan informasi yang jelas, menunjukkan kompetensi, kemudian memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk menentukan pilihannya.

Bagaimana Cara Menjawab Telepon Price Shopper?

Misalnya ada pelanggan menelepon:

“Pak, servis AC mobil berapa?”

Jangan langsung menjawab angka.

Coba arahkan percakapan sedikit lebih jauh.

“AC-nya bermasalah seperti apa, Pak? Tidak dingin sama sekali atau dinginnya hanya saat jalan?”

Pertanyaan tersebut sederhana, tetapi mempunyai tujuan penting.

Kita sedang mencari informasi.

Kalau pelanggan menjawab:

“Tidak dingin sama sekali.”

Kita bisa melanjutkan:

“Kalau begitu sebaiknya kita cek dulu sistem AC-nya. Bisa saja masalahnya dari refrigerant, kebocoran, kompresor, atau komponen kontrol. Untuk pemeriksaan awal biayanya sekian. Setelah diketahui penyebabnya, baru kami berikan estimasi perbaikannya.”

Perhatikan perbedaannya.

Kita tidak sekadar menjual “servis AC”.

Kita sedang menjelaskan proses untuk menemukan penyebab masalah.

Ini jauh lebih bernilai daripada sekadar menyebutkan harga.

Berikan Harga, Tetapi Jelaskan Apa yang Didapat Pelanggan

Bengkel tidak perlu takut memberikan harga melalui telepon.

Justru pelanggan memang membutuhkan gambaran biaya.

Terutama jika pekerjaan yang ditanyakan merupakan pekerjaan besar seperti overhaul mesin, perbaikan transmisi, sistem AC, atau kerusakan kelistrikan.

Namun angka tersebut sebaiknya tidak berdiri sendiri.

Misalnya:

“Untuk pemeriksaan awal biayanya RpXXX. Pemeriksaan tersebut meliputi pengecekan sistem, diagnosis penyebab masalah, dan pemeriksaan komponen terkait. Setelah penyebabnya ditemukan, kami akan memberikan estimasi pekerjaan dan spare part yang diperlukan.”

Dengan cara seperti ini, pelanggan memahami apa yang dia bayar.

Harga jasa bengkel pun sebaiknya mempunyai dasar yang jelas. Penentuan tarif tidak hanya soal menambahkan margin pada harga spare part, tetapi juga harus mempertimbangkan waktu kerja, kemampuan teknisi, peralatan, overhead, dan nilai pekerjaan yang diberikan.

Pembahasan mengenai cara menentukan tarif jasa bengkel menjadi penting ketika bengkel ingin mempunyai struktur harga yang sehat dan konsisten.

Jangan Tutup Telepon Tanpa Mengundang Pelanggan

Ini mungkin bagian paling sederhana, tetapi sering terlupakan.

Setelah menjelaskan harga dan proses pemeriksaan, jangan langsung berkata:

“Baik Pak, terima kasih sudah menghubungi kami.”

Kemudian telepon ditutup.

Coba lanjutkan dengan pertanyaan yang mengarah pada tindakan.

“Kalau berkenan, mobilnya bisa dibawa ke bengkel supaya kami periksa langsung. Kira-kira Bapak bisa datang hari ini atau besok?”

Atau:

“Kalau mobilnya dibawa sekarang, kami bisa mulai pemeriksaan setelah kendaraan masuk.”

Pertanyaan seperti ini membuat percakapan mempunyai next step.

Pelanggan tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga mendapatkan pilihan tindakan.

Dan kalau pelanggan menjawab:

“Saya masih cari-cari dulu, Mas.”

Tidak masalah.

Jawab dengan tetap ramah.

“Siap Pak, tidak masalah. Silakan dibandingkan dulu. Kalau nanti ingin kami bantu cek mobilnya, hubungi kami kembali.”

Selesai.

Tidak perlu memaksa.

Kalau Pelanggan Hanya Mau Tahu Harga?

Nah, ini juga perlu dipahami.

Ada pelanggan yang ketika ditanya:

“Keluhannya apa, Pak?”

langsung menjawab:

“Saya cuma mau tahu harganya saja.”

Jangan dipaksa.

Berikan informasi yang memang dia minta.

Tetapi tetap berikan konteks.

Contohnya:

“Untuk pekerjaan tersebut kisarannya mulai dari RpXXX, tergantung kondisi kendaraan dan komponen yang ditemukan saat pemeriksaan. Kalau Bapak mau, mobil bisa dibawa ke bengkel supaya kami bisa memastikan sumber masalahnya.”

Kemudian tutup dengan pertanyaan sederhana:

“Kira-kira kapan mobilnya bisa dibawa ke bengkel?”

Kalau jawabannya belum tahu, tidak masalah.

Yang penting pelanggan mendapatkan pengalaman komunikasi yang baik.

Price Shopper Bisa Menjadi Awal Hubungan Jangka Panjang

Ada satu prinsip yang menurut kami penting bagi pemilik bengkel.

Jangan buru-buru menilai pelanggan dari pertanyaan pertamanya.

Orang yang hari ini hanya bertanya harga bisa saja menjadi pelanggan tetap beberapa bulan kemudian.

Begitu juga sebaliknya, pelanggan yang awalnya datang karena harga murah belum tentu akan kembali kalau pengalaman servisnya buruk.

Karena itu, bengkel sebenarnya tidak hanya menjual pekerjaan teknis.

Kita menjual rasa percaya.

Pelanggan menyerahkan mobilnya kepada kita karena mereka percaya kendaraan tersebut akan ditangani dengan benar.

Di sinilah peran Service Advisor menjadi sangat penting. Seorang Service Advisor bukan sekadar orang yang menerima telepon, mencatat keluhan, lalu membuat invoice. Cara berkomunikasi sejak kontak pertama ikut menentukan bagaimana pelanggan melihat profesionalisme bengkel.

Karena itu, kemampuan komunikasi dan pemahaman kebutuhan pelanggan seharusnya menjadi bagian dari kompetensi tim bengkel. Peran tersebut dibahas lebih jauh dalam peran Service Advisor dalam operasional bengkel.

Dari “Berapa Harganya?” Menjadi “Kapan Mobil Dibawa?”

Inilah perubahan kecil yang bisa kita lakukan.

Pelanggan menelepon:

“Pak, berapa biaya perbaikannya?”

Jangan melihatnya sebagai gangguan.

Lihat sebagai kesempatan untuk memulai percakapan.

Tanyakan keluhannya.

Dengarkan ceritanya.

Jelaskan kemungkinan proses pemeriksaan.

Berikan estimasi yang masuk akal.

Terangkan apa saja yang termasuk dalam pekerjaan.

Kemudian arahkan kepada langkah berikutnya.

Tujuannya bukan membuat setiap penelepon langsung membeli jasa kita.

Tidak realistis.

Tujuannya adalah membuat pelanggan merasa bahwa ketika mobilnya bermasalah, bengkel kita adalah salah satu tempat yang bisa dipercaya untuk mencari solusi.

Bahkan ketika pelanggan tidak langsung datang hari itu.

FAQ Price Shopper di Bengkel Mobil

Apa yang dimaksud dengan price shopper?

Price shopper adalah calon pelanggan yang menghubungi beberapa bengkel atau penyedia jasa untuk membandingkan informasi, terutama harga, sebelum memutuskan melakukan transaksi.

Apakah bengkel harus memberikan harga melalui telepon?

Sebaiknya berikan informasi harga atau kisaran biaya jika memang memungkinkan. Namun, jelaskan juga pekerjaan yang dilakukan dan faktor yang dapat membuat biaya berubah setelah kendaraan diperiksa.

Bagaimana cara menghadapi pelanggan yang hanya mencari harga termurah?

Tetap layani dengan profesional. Berikan harga yang jelas, tetapi jelaskan juga apa yang termasuk dalam pekerjaan tersebut. Jangan memaksakan pelanggan untuk datang.

Apa pertanyaan pertama yang sebaiknya diajukan?

Tanyakan kondisi kendaraan terlebih dahulu, misalnya, “Keluhannya apa?”, “Apa yang terjadi dengan mobilnya?”, atau “Sejak kapan masalah tersebut muncul?”

Mengapa bengkel sebaiknya mengundang pelanggan datang?

Karena diagnosis kendaraan tidak selalu bisa dilakukan hanya melalui telepon. Pemeriksaan langsung memungkinkan bengkel mengetahui kondisi sebenarnya dan memberikan estimasi yang lebih akurat.

Apakah pelanggan yang tidak langsung datang berarti gagal menjadi pelanggan?

Belum tentu. Bisa saja pelanggan masih membandingkan pilihan, menunggu waktu, atau menyiapkan dana. Pengalaman komunikasi yang baik tetap membuka peluang untuk kunjungan berikutnya.

Kesimpulan

Price shopper bukan selalu musuh bengkel.

Justru dari pertanyaan sederhana seperti “Servisnya berapa?”, kita bisa mendapatkan kesempatan untuk mengenal masalah kendaraan pelanggan dan menunjukkan bagaimana bengkel bekerja.

Kuncinya bukan menghindari pertanyaan harga.

Kuncinya adalah jangan berhenti pada harga.

Gali keluhan kendaraan, jelaskan proses diagnosis, terangkan pekerjaan yang diperlukan, berikan estimasi dengan transparan, lalu arahkan pelanggan kepada langkah berikutnya.

Kalau pelanggan akhirnya datang, bagus.

Kalau belum datang, tetap layani dengan baik.

Karena bisnis bengkel bukan hanya tentang berapa banyak mobil yang masuk hari ini. Kita juga sedang membangun kepercayaan agar ketika pelanggan membutuhkan bantuan lagi, nama bengkel kita yang pertama kali mereka ingat.

Montirpro Indonesia.
Integrated Automotive Solutions
🌐 Montirpro.com
📞 0811-1857-333


Gabung dalam percakapan