Minggu, 14 Oktober 2018

Memahami Sistem Pengapian Chevrolet Spin

Penjelasan Sistem Pengapian Elektronik Chevrolet Spin

Electronic ignition system atau sistem pengapian berfungsi untuk menghasilkan dan mengontrol loncatan bunga api listrik tegangan tinggi. Bunga api ini digunakan untuk membakar campuran bahan bakar dan udara yang sudah dikompresikan sebelumnya pada timing yang tepat agar mesin dapat menghasilkan tenaga yang optimal, irit bahan bakar dan rendah emisi gas buang.

Sistem pengapian ini menggunakan satu koil untuk satu silinder mesin. Koil pengapian dipasang pada setiap silinder dengan menggunakan short integrated booth atau high tension wire untuk menghubungkan koil ke busi. Driver modul yang terdapat pada masing-masing koil akan diaktihkan ON/OFF oleh ECM atau Engine Control Module.

ECM mengontrol timing pengapian dan urutan pengapian dengan menggunakan informasi-informasi yang diberikan oleh berbagai sensor seperti MAF sensor, crankshaft sensor dan camshaft sensor.







Sistem pengapian elektronik terdiri dari komponen-komponen berikut ini:


Crankshaft Position Sensor

Crankshaft sensor bekerja dengan reluctor wheel pada crankshaft (untuk crankshaft sensor yang dipasang didepan mesin) atau reluctor wheel pada flywheel (untuk crankshaft sensor yang dipasang pada bagian belakang mesin).

ECM memonitor frekuensi tegangan pada sirkuit sinyal crankshaft posistion sensor. Saat gigi reluctor wheel melewati sensor maka sensor akan menghasilkan sinyal digital ON/OFF. Sinyal digital ini kemudian diproses oleh ECM . Hal ini menciptakan pola sinyal yang memungkinkan ECM dapat menentukan posisi crankshaft. ECM menggunakan sinyal ini untuk menentukan sepasang silinder  yang sedang berada pada posisi TMA atau titik mati atas. Sinyal dari camshaft sensor digunakan untuk menentukan mana dari kedua silinder tersebut yang sedang dalam langkah kompresi dan mana silinder yang sedang dalam langkah buang. ECM menggunakan sinyal yang dihasilkan sensor ini untuk dapat mengatur sistem pengapian, injeksi bahan bakar dan kontrol knocking secara presisi. Crakshaft sensor juga dapat digunakan untuk mendeteksi terjadinya misfire.

ECM juga menggunakan sinyal dari cranksahft sensor untuk memonitor putaran mesin dan membagikan informasi tersebut ke control unit yang lain.



Camshaft Position Sensor

Mesin ini meggunakan satu camshaft position sensor untuk satu camshaft. Camshaft position sensor menghasilkan sinyal digital ON/OFF sebanyak 4 kali pada setiap satu putaran camshaft. Camshaft position sensor tidak secara langsung mempengaruhi sistem pengapian. Informasi dari camshaft position sensor digunakan oleh ECM untuk menentukan posisi camshaft dan crankshaft.
Dengan memonitor sinyal camshaft position sensor dan crankshaft position sensor ECM dapat dengan presisi waktu kerja fuel injector.
ECM menyuplai tegangan referensi sebesar 5V dan ground ke camshaft position sensor. Kemudian camshaftg position sensor memberikan sinyal input ke ECM. Sinyal ini juga digunakan untuk mendeteksi kesesuaian posisi camshaft dengan crankshaft.

ECM juga menggunakan sinyal dari camshaft position sensor untuk memonitor putaran mesin dan membagikan informasi tersebut ke control unit yang lain.


Knock Sensor

Sistem knock sensor membuat ECM dapat mengontrol timing pengapian mendekati performa mesin terbaik sekaligus melindungi mesin dari terjadinya knocking yang dapat merusak komponen mesin.
Sistem knock sensor menggunakan satu atau dua buah knock sensor 2 kabel. Sensor yang digunakan tipe piezo-electric crystal technology yang menghasilkan sinyal tegangan listrik AC dengan frekuensi dan amplitudo yang bervariasi sesuai dengan tingkjat getaran dan kebisingan mesin. Amplitudo dan frekuensi yang dihasilkan tergantung besarnya ketukan pada silinder mesin yang dideteksi oleh knock sensor. ECM menerima sinyal knock sensor melalui sirkuit sinyal high dan low.

ECM mempelajari tingkat noise minimum atau background noise pada saat idle dari knock sensor dan menggunakan nilai kalibrasi untuk tingkat RPM. ECM menggunakan tingkat noise minimum untuk menghitung saluran noise. Sinyal knock sensor yang normal akan menumpang pada saluran noise. Saat terjadi perubahan pada putaran dan beban mesin parameter saluran noise upper dan lower akan berubah untuk mengakomodasi sinyal knock sensor yang normal, menjaga sinyal tetap berada di dalam saluran. Untuk menentukan silinder yang mengalami knocking, ECM hanya menggunakan informasi sinyal knock sensor saat setiap silinder mendekati Titik Mati Atas (TMA) pada langkah kompresi. Jika terdapat knocking, sinyal akan berada di luar saluran noise.

Jika ECM mendeteksi terjadinya knocking, maka ECM akan memundurkan timing pengapian untuk mencegah dan mengurangi knocking. ECM akan selalu berusaha untuk mencapai tingkat kompensasi nol atau tidak ada pemunduran timing pengapian. Sinyal knock sensor yang tidak normal akan selalu berada di luar saluran noise atau tidak akan muncul. Knock sensor diganostic dikalibrasi untuk mendeteksi kerusakan dengan sirkuit knock sensor di dalam ECM, wiring knock sensor, atau tegangan output knock sensor. Beberapa diagnostic juga dikalibrasi untuk dapat  mendeteksi noise yang konstan terjadi dipengaruhi dari luar seperti komponen yang kendor atau longgar dan kebisingan komponen mekanikal mesin yang berlebihan.



Ignition Coil

Setiap ignition coil mempunyai suplai tegangan dan sirkuit ground. ECM menyuplai low reference dan Ignition Control (IC) circuit. Setiap ignition coil mempunyai solid state driver module. ECM akan memerintahkan sirkuit IC untuk ON, yang akan mengalirkan arus listrik ke gulungan kumparan primer. Saat ECM memerintahkan sirkuit IC untuk OFF maka arus yang mebngalir ke kumparan primer akan terputus. Medan magnet yang diciptakan kumparan primer akan kolaps disekitar kumparan sekunder yang kemudian menghasilkan induksi tegangan tinggi pada elektroda busi.



Engine Control Module (ECM)

ECM mengontrol seluruh sistem pengapian dan secara konstan mengatur timing pengapian. ECM memonitor informasi dari berbagai sensor, seperti dibawah ini:

  • Throttle position sensor
  • Engine coolant temperature (ECT) sensor
  • Mass air flow (MAF) sensors
  • Intake air temperature (IAT) sensors
  • Vehicle speed sensor (VSS)
  • Transmission gear position or range information sensors
  • Engine knock sensors
  • Ambient pressure sensors (BARO)



Ada masalah dengan mobil Anda...??  

Butuh Bantuan...???  

Silahkan hubungi kami..!!




Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *