Menganalisa Gangguan Pada Sistem Kontrol Transmisi Otomatis

Periksa Sistem Kontrol Transmisi Otomatis Sebelum Memutuskan Melakukan Overhaul

Sistem kontrol  transmisi otomatis menggunakan komponen-komponen elektronika seperti: sensor-sensor, solenoid dan relay untuk mengatur operasi dari clutch, gear dan torque converter transmisi otomatis.
Pada aplikasi dimana fungsi-fungsi ini tidak terintegrasi dengan powertrain control module atau PCM maka digunakanlah transmission control module atau TCM yang terpisah untuk mengontrol kerja transmisi otomatis. Hal tersebut yang akan menjadi fokus pada artikel ini: Memahami interaksi antara PCM dan TCM.

Sama seperti halnya dengan PCM, TCM juga membutuhkan informasi yang akurat agar dapat bekerja dengan sempurna. Jika TCM mendapatkan informasi yang tidak benar dari sensor-sensor internal transmisi otomatis atau mendapatkan input yang salah dari PCM atau sensor mesin lainnya maka akan menimbulkan efek yang buruk pada kerja transmisi otomatis. Gejala yang dapat dirasakan antara lain: perpindahan gigi transmisi otomatis menjadi kasar, perpindahan gigi terjadi pada RPM yang salah atau bahkan transmisi otomatis masuk ke mode "limp-in" sehingga mobil hanya berjalan dengan gigi dua atau gigi tiga saja.




Informasi -Informasi Penting Yang Dibutuhkan TCM

Ukuran transmisi otomatis semakin kecil saat ini jika dibandingkan dengan model-model terdahulu. Kebanyakan transmisi otomatis generasi saat ini mempunyai sistem kontrol adaptasi yang akan selalu "mempelajari" titik perpindahan gigi (shift point) yang paling baik berdasarkan input sensor dan feedback yang diterima TCM.

TCM akan akan melakukan strategi adaptasi  perpindahan gigi untuk mengkompensasi perubahan yang terjadi pada performa mesin dan keausan yang terjadi pada komponen transmisi yang bergesakan di dalam clutch.

Dengan terus melakukan adaptasi secara halus pada perpindahan dan pertautan gigi transmisi, TCM berusaha untuk selalu menjaga kualitas perpindahan gigi secara konsisten.

TCM juga selalu memonitor apa yang terjadi di dalam transmisi otomatis melalui berbagai speed sensor dan gear range sensor yang akan memberi tahu apakah perpindahan gigi berlangsung dengan baik pada tingkat kecepatan yang ditentukan.

TCM juga memerlukan informasi tentang kecepatan mobil dan informasi ini diberikan oleh vehicle speed sensor. TCM juga membutuhkan informasi tentang putaran (rpm) dan beban mesin.

Pada beberapa aplikasi, sinyal tentang rpm dihubungkan dengan menggunakan kabel secara langsung ke TCM maupun ke PCM. Terdapat jalur kabel khusus antara crankshaft position sensor dan TCM untuk memberikan informasi tentang putaran mesin.

Pada apalikasi yang lain sinyal rpm hanya diberikan ke PCM dan kemudian PCM akan meneruskan sinyal tersebut ke TCM melalui sisrkuit data BUS.


Besarnya beban mesin dapat ditentukan dari posisi throttle, kevakuman intake adan air flow. Tergantung pada jenis EFI yang digunakan (speed density atau air flow), informasi mengenai beban mesin dapat disuplai oleh throttle position sensor (TPS), manifold absolute pressure sensor (MAP) atau melalui vane airflow sensor (VAF) atau mass airflow sensor (MAF).

Sama seperti sinyal rpm tadi, informasi dari berbagai sensor tersebut dapat diteruskan langsung ke TCM atau terlebih dahulu dikirimkan ke PCM baru kemudian diteruskan ke TCM melalu saluran data BUS.


Dampak Input Sensor Yang Buruk Terhadap Transmisi Otomatis

Karena transmisi otomatis perlu mengetahui informasi tentang putaran dan beban mesin serta kecepatan kendaraan agar dapat menetukan shift point yang tepat, maka input sensor yang tidak tepat atau hilangnya input tersebut dapat menimbulkan masalah pada TCM.

Sinyal throttle position sensor menggantikan kabel throttle kickdown pada sistem mekanikal transmisi otomatis yang dahulu. Jadi jika TPS membaca terlalu tinggi atau rendah maka dapat mempengaruhi kickdown shift saat akselerasi, begitu juga saat perpindahan gigi naik atau turan pada kondisi normal.

Jika TCM tidak mendapatkan sinyal dari TPS, TCM dapat menggantikan informasi tersebut  dengan kalkulasi sudut throttle yang diberikan oleh PCM melalu data BUS. Hal ini tentu saja akan sangat mempengaruhi karakteristik perpindahan gigi transmisi.

Kerusakan throttle position sensor tidak akan selalu memunculkan kode DTC. PCM cukup cerdas untuk mengetahui kapan TPS bekerja dengan baik dan kapan tidak. PCM dapat menganalisa sinyal TPS dengan membandingkan sinyal TPS dengan rpm, sinyal MAP sensor dan air flow sensor untuk menentukan apakah sinyal TPS benar atau tidak. Jika sinyal TPS tidak sesuai dengan input sensor-sensor lainnya yang digunakan untuk mengukur beban kerja mesin, maka PCM akan memunculkan kode DTC.


Mode Limp-In Pada Transmisi Otomatis

Pada kondisi tertentu, seperti hilangnya salah satu atau lebih input dari sensor-sensor vital pada TCM maka transmisi otomatis akan masuk ke mode Limp-In atau mode default.

Ketika kerusakan serius terdeteksi (seperti hilangnya sinyal speed sensor) atau ada masalah pada wiring circuit kesalah satu solenoid, maka TCM akan memutuskan power suplai yang menuju ke relay TCM dan menonaktifkan semua solenoid perpindahan gigi. Hal ini akan mengakibatkan transmisi otomatis hanya dapat bekerja dengan gigi 2 atau gigi 3 saja.

Transmisi otomatis akan terus berada dalam mode Limp-In sampai:

  • Masalah dianalisa dan diperbaiki
  • Power suplai ke TCM diputuskan sementara untuk mereset komputer. Hal ini mungkin akan membuat transmisi otomatis bekerja dengan normal sementara waktu, namun saat TCM kembai mendetekasi adanya masalah maka akan segera kembali masuk ke mode Limp-In.

Cara Membaca Kode DTC Transmisi Otomatis Toyota Secara Manual




Kode DTC Transmisi Otomatis

Sama halnya dengan PCM, TCM mempunyai kemampuan untuk melakukan self diagnose dan menampilkan kode DTC yang dapat dibaca dengan menggunakan scantool, jadi jika lampu MIL (Malfunction Indicator Lamp) menyala dan transmisi tidak bekerja dengan benar kemungkinan ada kerusakan pada transmisi otomatis atau mungkin saja kerusakan pada mesin. Agar dapat mengetahui dengan pasti apa yang rusak harus melihat kode DTC dengan scantool.

Sering terjadi salah analisa dimana diduga terdapat  masalah pada transmisi otomatis namun sebenarnya berasal dari mesin, dan demikian sebaliknya.
Jika torque converter terlalu cepat mengunci atau tidak  terlepas dengan cepat maka akan menimbulkan gejala getaran pada driveline yang mungkin dirasakan seperti getaran mesin karena misfire. Jika torque converter tidak mau terlepas sama sekali  maka dapat menyebabkan mesin mati saat mobil akan berhenti.

Oleh karena itu sangat penting untuk selalu memastikan bahwa mesin bekerja dengan baik dan tidak ada kode DTC mesin yang berdampak pada kinerja transmisi otomatis pada saat melakukan analisa gangguan pada sistem kelistrikan transmisi otomatis. Dengan kata lain perbaiki dahluu kerusakan pada sistem mesin sebelum melakukan perbaikan pada sistem transmisi otomatis.


Jika terjadi masalah pada komunikasi data BUS antara TCM dan PCM maka kemungkinan kode DTC transmisi otomatis tidak dapat diakses sebelum masalah komunikasi tersebut diperbaiki. Kemungkinan penyebab bisa diakibatkan oleh open circuit atau short circuit ke ground atau kerusakan di dalam modul dan komponen yang terhubung ke jalur data BUS.


Jalur data BUS selalu dimonitor setiap saat kunci kontak ON. Jika tidak ada pesan yang diterima dari PCM selama 10 detik, hal itu memberitahukan TCM ada sesuatu yang salah dan akan memunculkan kode DTC data BUS.


Jika transmisi dapat menemukan sinyal putaran mesin dari crankshaft sensor atau dari PCM maka transmisi otomatis dapat dipaksa masuk ke dalam mode Limp-In. Masalah tersebut akan memunculkan kode DTC crankshaft dan akan menyalakan lampu MIL. Kemunkinan penyebab bisa saja terjadi open circuit atau shot circuit pada sirkuit crankshaft sensor, masalah pada konektor TCM atau open circuit atau shot circuit pada sirkuit ground crankshaft sensor atau terjadi kerusakan pada TCM dan PCM.


Pada aplikasi sistem OBD II, berbagai kode DTC transmisi otomatis termasuk di dalam daftar kode DTC "generic" OBD II. Jika TCM mendeteksi masalah yang dapat mempengaruhi emisi gas buang maka TCM akan mengirim pesan melalui jalur data BUS ke PCM untuk menyalakan lampu MIL.

Kode DTC akan tersimpan di dalam TCM dan akan terus bertahan disana sampai dihapus atau kerusakan tidak terdeteksi kembali dalam 40 drive cycle secara terus menerus. Lampu MIL bisa saja mati namun kode DTC tetap tersimpan di dalam memori jika tidak ada kesalahan yang terdeteksi  selama 3 kali drive cycle secara berurutan.


Tujuh Langkah Cara Melakukan Trobleshooting Pada Sistem Elektronik Transmisi Otomatis


Beikut tujuh langkah yang direkomendasikan saat melakukan trobleshooting pada sistem kelistrikan transmisi otomatis:

1. Verifikasi keluhan

Apakah perpindahan gigi transmisi yang tidak sempurna, bergetar, transmisi selip dll ?


2. Verifikasi gejala yang terkait

Apakah mesin mengalami overheat, atau ada kode DTC mesin atau masalah driveablity pada mesin..?


3. Analisa gejala dan kapan gejala tersebut terjadi

Apakah keluhan hanya terjadi saat panas, dingin atau pada kecepatan tertentu saja..?


4. Periksa kemungkinan adanya TSB yang dikeluarkan pabrikan  yang terkait dengan keluhan


5. Perbaiki kerusakan

Dengan berpatokan pada kode DTC yang munjul atau tabel gejala kerusakan lakukan langkah pemeriksaan untuk memperkecil kemungkinan penyebab.
Apakah masalah tersebut di dalam atau diluar transmisi..? Apakah masalahnya pada sistem mekanikal, hidrolik atau elektrikal...?


6.Perbaiki kerusakan 

Ganti komponen yang rusak, ganti transmisi atau perbaiki kerusakan pada sirkuit kelistrikan transmisi otomatis.

7. Verifikasi perbaikan

Apakah langkah perbaikan yang dilakukan telah menyelesaikan masalah yang dikeluhkan.




Ada masalah dengan mobil Anda...??  

Butuh Bantuan...???  

Silahkan hubungi kami..!!




0 Response to "Menganalisa Gangguan Pada Sistem Kontrol Transmisi Otomatis"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel